RSS

Manajemen dan Organisasi Perguruan Silat

13 Feb

Tulisan ini adalah rangkuman beberapa pendapat menarik diskusi sahabat silat di sahabatsilat.com mengenai manajemen perguruan silat. Saya melakukan sedikit perubahan redaksional tanpa mengubah isi nya.

Bayu Umbara

Alhamdulillah hari sabtu kemarin (22 Januari 2011) di padepokan pencak silat TMII di gedung Persilat, saya diberikan kesempatan yang sangat berharga dan sangat fenomenal sekali dalam hidup saya bisa berkumpul dan berdialog dengan tokoh-tokoh silat negeri ini, para praktisi silat tradisional dan seluruh komponen yang sangat mencintai silat dan berjuang sepenuh hati dan segenap daya dan upaya mereka untuk melestarikan silat tradisional nusantara dari kepunahan dan dari kehilangan jati dirinya sebagai khasanah kekayaan budaya asli bangsa indonesia, pertemuan kemarin benar-benar membakar jiwa dan semangat saya untuk berbuat dan mencintai silat sepenuh hati, sebagaimana wejangan dari Jendral Edi Marzuki Nalapraya bahwa kita berbuat begini adalah sebagai sebuah ibadah yang dilandasi dengan kecintaan dan keikhlasan karena tidak ada yang menggaji kita untuk ini, hanya karena rasa cinta dan peduli sebagai putera bangsa terhadap khasanah kekayaan tradisional ibu pertiwi agar terjauhkan dari kepunahan sehingga kita mau bersusah payah seperti ini mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta dan hidup kita, agar generasi berikutnya tidak hanya membaca tentang khasanah silat tradisional nusantara dalam lembaran-lembaran sejarah yang mereka tidak mengetahui dan memahami wujud aslinya.

Dalam pertemuan kemarin para sesepuh dan tokoh-tokoh persilatan serta generasi muda pencinta dan pelestari silat tradisional nusantara berbaur, bersilaturahmi, dan berdiskusi demi perkembangan dan kemajuan silat tradisional dalam suasana yang sangat akrab dan cair, melepaskan semua embel-embel dan ego perguruan maupun pribadi, melebur menjadi satu dalam Forum Pencinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia, hanya membawa nama silat tradisional nusantara, hal ini patut dicontoh dan di terapkan didaerah-daerah lain di Indonesia sebagai gudang khasanah silat di nusantara seperti di bandung Jawa Barat, Jawa Timur, Minangkabau, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia untuk menyatukan dan mengakomodir pribadi-pribadi yang gila silat dan mencintai silat sepenuh hati. terimakasih para sesepuh dan para guru,terimakasih para senior, terimakasih para pencinta dan penggila silat yang telah bersusah payah menyelenggarakan pertemuan yang sangat berharga ini, mudah2an program seperti ini bisa kita pertahankan dan tingkatkan terus kualitas dan kuantitasnya dimasa yang akan datang, bravo silat tradisional indonesia, bravo FP2STI, bravo sahabat silat indonesia,

Bagi saya lebih membahagiakan ketemu tokoh-tokoh persilatan negeri ini dari pada ketemu tokoh-tokoh pejabat RI ataupun ketemu artis hehe, terima kasih semuanya,mohon maaf kalau berlebihan

Suprapto
Apresiasi dan Selamat kepada FP2STI/SS, yang banyak kemajuan dan berhasil “mengumpulkan” berbagai praktisi dan pemerhati silat tradisional, dalam rasa kesetaraan yang kental. Fungsi ini akan TETAP DIPERLUKAN sampai kapanpun.
Kalau sudah dalam rasa kesetaraan yang saling menghargai posisi dan peran masing2, pertukaran pengetahuan yang bermanfaat bagi para pihak akan berjalan lebih lancar.
Ada missing link, sekurangnya barier psikologis, antara IPSI dengan sebagian silat tradisional, meskipun pak Eddie Nalapraya, sudah 30 tahun berusaha dan memimpin jajaran IPSI/PERSILAT.
Kemungkinan karena IPSI merupakan FORUM, dari ORGANISASI perguruan pencaksilat, dari semua tingkatan, daerah-wilayah-nasional-internasional.
Jangankan kepada perguruan yang belum tergabung di IPSI, baik yang sudah berbentuk badan perguruan maupun masih perorangan; sedangkan kepada perguruan anggota pun, ada barrier psikologis bagi pengurus IPSI, untuk “masuk” dalam pembinaan manajemen organisasi maupun manajemen keilmuan perguruan2. Katakanlah perguruan sudah lama tidak musda atau munas, IPSI tidak bisa berbuat apa2, karena merupakan urusan internal perguruan yang tidak bisa dicampuri. Apalagi masalah manajemen keilmuan.
Peran pribadi Pak Eddie Nalapraya, yang sudah kenyang asam garam dalam membina persilatan (sekarang dalam posisi Pembina PB IPSI dan Duta Besar/Ambassador PERSILAT), mas Don S. Basuki, (Hubungan Internasional PD), yang tentu sangat memahami perjalanan perkembangan manajemen PD (yg termasuk perguruan besar/perguruan Historis PB IPSI), bp Sudirman Yan yang menguasai seluk beluk manajemen keilmuan, disamping karena menjadi sekretaris Dewan Pendekar PS Perisai Putih (perguruan Historis PB IPSI), saat ini juga duduk di BINPRES PB IPSI; tentu apa yang disampaikan para beliau itu, bisa diambil manfaatnya.
Kalaupun penampilan silat tradisional (diluar sisi keilmuan) pada tayangan media akhir2 ini ada hal2 yang kurang memuaskan, menjadi target bersama seluruh kekuatan pecinta silat, agar beberapa tahun lagi, penampilannya sudah mencerminkan kemajuan yang pesat dalam berbagai hal yang diidamkan.

Dolly Maylisa
Tahap-tahap pembentukan management perguruan silat
1. Membuat AD/ART dapat melalui musyawarah antara guru dan murid
2. Membuat Program latihan dan jenjang/tingkat pelatihan dapat dibuat pertahun, perdua tahun atau semaunya, paling tidak untuk awalnya adalah menyusun setiap tahapan latihan misal dari teknik dasar kemudian jurus dan aplikasinya
3. Membuat Susunan organisasi bisa dibagi 2 yaitu bagian pengurus untuk mengatur organisasi dan bagian untuk mengurus pelatihan tentu saja penempatan orangnya disesuaikan dengan kemampuan
4. Ini yang aku rasa tadi tidak dibahas (kalo salah mohon dikoreksi) masalah pengawasan, aku rasa dalam organisasi maupun pelatihan haruslah dipilih seorang atau beberapa orang untuk mengawasi program yang telah dibuat (ditempatku ini yang sering kecolongan kalo gak ada yang ngawas kadang2 pada males latihan dan pelatihan yang diberikan tidak sesuai dengan program latihan, bahkan program tidak jalan sama sekali)
5. Tetapkan masa evaluasi program dapat berupa musyawarah atau berupa kenaikan tingkat
6. Masalah pendanaan – jika sudah dibuat seperti organisasi tentulah seharusnya semua diatur dengan baik seperti ketika mengadakan acara kegiatan diadakan laporan mengenai kegiatan tersebut dan pasti untuk mengurus masalah ini kadang membutuhkan dana, dana bisa didapat dari iuran yang disepakati bersama atau usaha lainnya
7. Jika perguruan sudah memiliki 20 atau lebih anggota setara pelatih / dibawah guru dapat didaftarkan ke IPSI (ditempatku cuma ada 4-6pelatih aktif dan 6 tempat latihan dengan murid sekitar 50an, tetap gak belum bisa daftar IPSI, )
8. Bisa juga di sahkan di notaris dengan membentuk yayasan (ini aku pilih terakhir karena pengurusannya agak ribet dan dana tak sedikit )

Bayu Umbara
Hal yang paling mendasar dalam membentuk mangement perguruan silat secara lebih maju dan profesional, sesuai yang disampaikan oleh mas don s basuki adalah keikhlasan semua pihak yang terkait dan terlibat didalam sebuah aliran ataupun perguruan, untuk mengakomodir dan menyatukan semua potensi dalam suatu wadah yang lebih besar dan ditangani secara lebih terorganisir dan modern dengan secara bersama2 meluruhkan ego pribadi dan kepentingan pribadi maupun ego masing2 perguruan dari sebuah aliran silat menjadi satu kesatuan visi dan misi sebuah aliran, atau yang lebih spesifik lagi kesatuan visi dan misi organisasi dari masing2 personel praktisi silat dalam sebuah perguruan silat,mohon maaf kalau berbelit2,terimakasih

Suprapto
Memang- masing perguruan punya ciri khas. Tidak ada yang presis sama.
Setuju dgn mbak Dolly MN.
Semuanya dari kecil. Basicnya dulu. AD/ART bisa diperbaiki dalam perjalanan perguruan, dalam setiap musyawarah yang berwenang untuk itu.
Misal, ada lembaga pewaris keilmuan atau tidak, tergantung dari awal keberadaannya, serta proyeksi kebutuhan kedepan. Semua punya alasan masing2.
Dalam kasus MP, juga ada sesuatu yang khas.
Dari sistim pelestarian keilmuan yang tertutup dan terbatas pada keluarga yang terpilih, tiba2 bermaksud untuk terbuka, diabdikan seluas luasnya untuk kepentingan nusa bangsa.
Dari 13 bersaudara kandung, ditunjuk mas Poeng dan mas Budi, yang saat itu berusia 19 dan 17 tahun, untuk mendirikan perguruan dengan misi tersebut.
Didukung oleh geng-nya yang menjadi peserta latihan angkatan pertama non keluarga, Mas Poeng dan Mas Budi mendirikan perguruan MP. Teman2nya menyusun AD/ART, dengan mempertimbangkan sejarah pelestarian di satu sisi (adanya lembaga pewaris keilmuan dari keluarga, dibatasi dua orang yang ditunjuk oleh keluarga), dan disisi yang lain, harus sudah mencerminkan, perguruan ini punya misi, akan dikembangkan ke wilayah2 se nusantara. Sudah mengatur keberadaan Komda/pengda/cabang/kolat. Mengatur fungsi2 pokok, musyawarah/rapat2, masa jabatan kepengurusan dll, meski sederhana dan elementer.
Pewaris diberi hak veto, terutama mengenai keilmuan. Perkembangan selanjutnya ada Dewan Guru (saat ini kebetulan semuanya dari murid non keluarga). Pengaturan otoritas keilmuan dianggap penting, antara lain karena sifat keilmuan yang bisa berkembang dalam diri masing2 anggota, sehingga harus tetap terkendali.Dalam perkembangan, ada penyempurnaan AD/ART di setiap Munas, termasuk ketika sudah mulai ada perkembangan ke mancanegara, harus ada perubahan pada pasal Janji Anggota/Tri Prasetya. Tentu tidak mungkin, kalau orang asing harus berprasetya untuk mengabdi pada nusa bangsa dan negara Republik Indonesia….hehehe..
Semoga bermanfaat.

Yossi
Yang utama adalah tertata dengan rapi dan baik mau itu perguruan kecil ato besar, dan niat untuk memperbaiki sistem perguruannya, sesuaikan dgn kondisi masing2 yg simpel dan mudah untuk melaksanakannya, toh nanti juga disesuaikan dgn perkembangan dan kemajuan dari perguruannya . Struktur perguruan , siapa guru besarnya ( pewaris ) , siapa yg punya hak melatih, nanti kan hal-hal lainnya akan terus menyesuaikan kecuali perguruan itu memang sengaja utk tertutup sama sekali . Jaman akan terus berkembang, perguruan silat jg bs mengikuti jaman tapi tetap melestarikan amanah leluhurnya dan menjaga keaslian tatanan tradisionalnya

Suprapto
Kalau digarap sungguh2, perguruan dengan jumlah anggota yang berskala lebih besar, lebih memungkinkan dalam bidang penggalian dana/fund raising. Setidaknya karena dituntut tersedianya dana pengelolaan yang besar, baik untuk kegiatan organisasi ( a.l. sekretariat kolat-cabang-daerah-pusat, musyawarah, rapat, sewa tempat latihan dan beaya operasional lain), maupun kegiatan keilmuan (a.l. rapat2 teknik, penataran2 pelatih, ujian2, kejurcab kejurda kejurnas perguruan, pencetakan materi kurikulum, acara2 keilmuan lainnya, pelatda dan pengiriman kontingen, beaya kegiatan dewan guru, dst).
Belum lagi kalau mengidamkan punya padepokan sendiri.
Yaitu :
a. Iuran wajib anggota .
b. Usaha2 lain perguruan.

c. Donasi/sumbangan yang tidak mengikat.
Iuran anggota dipakai sebagai modal dasar kegiatan perguruan. Usaha lain termasuk sponsorship. Donasi harus memperhatikan hak-hak dasar donatur, yang sudah ada konvensinya.
Kesuksesannya, bergantung pada jumlah dan kwalitas anggota, penyusunan program dan pertanggung jawabannya (pada tahap penggalian dana internal, baik iuran wajib maupun donasi).
Tentu ada syarat2 performance dan syarat-syarat lain ketika mengusahakan dana dari luar, baik dari sponsorship maupun donatur, yang biasanya berkait dalam suatu kegiatan tertentu.
Biasanya, tindakan pertama akan mencari murid, yang ditargetkan mampu menjadi pelatih (dengan latihan yang lebih intensif), yang akan membantu pendekar tersebut dalam mengembangkan murid/anggota/peserta latihan lebih lanjut. Tentu harus juga bisa merekrut anggota2 awal dengan potensi lain yang akan diperlukan dalam merintis perguruan menjadi besar.
Sehingga kedepan, dalam pengembangan setapak demi setapak, sang pendekar tidak harus bergerak sendiri.
Tidak sulit mengidentifikasi minat dan bakat murid. Ada jenis yang bila diajak berpikir tentang kemajuan perguruan, arahnya selalu ke membahas keilmuannya. Ada juga kalau diajak bicara penyebaran keilmuan, larinya kearah manajemen yang harus diperbaiki.
Masing2 akan memberi manfaat/kontribusi pada pengembangan perguruan.
Jangka pendeknya, tidak sewa ruang latihan, bahkan untuk kegiatan UKM termasuk pengiriman kontingen untuk kegiatan perguruan, bisa mendapat subsidi dana dari rektorat.
Jangka panjangnya, perguruan akan mendapat anggota dengan tingkat intelektual cukup, yang kedepan bisa memberi kontribusi, baik pemikiran untuk kemajuan perguruan, sukur2 bisa membina/mengembangkan ditempat kedudukannya nanti.

Godam
@Mas Suprapto & Bang Suporter terima kasih atas penjelasannya.
Kalau dilihat masalah Dana, kalau saya lihat, permasalahan-perguruan perguruansilat tradisional seperti dana mungkin mirip dengan permasalahan yang dihadapi pengusaha-pengusahakecil/menengah.
Waktu itu saya berbicara kepada teman saya yg bidangnya seni. Selain menjual karyanya beliau juga mengajar. Kalau menurut dia, awalnya karyanya musti dikenalkan entah itu melalui pameran, kasih presentasi, dan workshop/seminar. Setelah dikenal karyanya orang-orang yg berminat utk mengenal lebih dalam ato bahkan ingin belajar berangsur datang.
Mungkin ide yg mirip bisa diterapkan untuk perguruan tradisional juga ? Misalnya memperkenalkan perguruan tsb. melalui workshop/seminar dan demonstrasi.
Anggota perguruan tersebut juga harus aktif menyebarkan informasi tebtabg perguruan nya.
Yang menurut saya menarik, kalau diluar misal nya AS ato Eropa topik ini lebih mengarah ke bagaimana menjalankan/manage Sekolah Beladiri bukan menjalankan/manage Organisasi Beladiri. Mungkin karena kebanyakan sekolah beladiri diluar sistem operasinya spt. unit business ? Jadi guru sekolah tersebut jadi seperti pemilik unit usaha tsb.
Terima kasih.
Wasalam,Faiz

Bayu Umbara
Menambahkan sedikit mas faiz, mengutip dari apa yang waktu itu dijelaskan oleh mas Don S Basuki, bahwa bentuk managemen perguruan silat itu ada 3 kategori atau 3 model:
1. Tradisional murni yang bersifat guru centris
2. Semi Profesional, yang pengelolaan perguruan secara lebih terorganisir berkembang sedikit lebih maju dari pada guru centris dengan AD/ART dan struktur organisasi serta program perguruan yang lebih jelas dan sistematis. dan selanjutnya,
3. Profesional murni, sudah kepada profit oriented, benar2 sebagai sebuah lembaga bisnis beladiri.
jadi perguruan2 yang banyak berkembang di indonesia adalah yang bersifat tradisional murni yang bersifat guru centris dan juga yang bersifat semi profesional seperti perisai diri, merpati putih,perisai putih dll, sedangkan yang berkembang di luar negeri seperti yang mas faiz jelaskan lebih kepada perguruan dengan pola profesional murni seperti banyaknya berdiri sekolah beladiri. mohon maaf para senior kalau penjelasannya kurang tepat, terima kasih
salam

Suprapto
Pada tiga jenis managemen yang bisa dipilih, sebagaimana telah diidentifikasi oleh mas DS Basuki, masing2 punya kelebihan dan kekurangan. Yang penting konsisten dan siap terhadap konsekwensi yang timbul.
Selanjutnya, ditempat masing2, sang murid yang sudah khatam tsb, mencari dan melatih murid dalam jumlah terbatas, sangat intensip, sehingga murid generasi kedua tsb khatam, kemudian melanjutkan ditempat masing2 melatih murid yang dipilihnya (generasi ke tiga), dan seterusnya.
Teoritis, dalam waktu tertentu, jumlah pendekarnya (= praktisi yang “khatam”) akan bertambah banyak sekali jumlahnya, mengikuti deret ukur(1×10=10, 10×10=100, 100×10=1000, 1000×10=10.000, dst.). Lebih lagi kalau setelah 10 muridnya khatam, sang guru ambil lagi 10 murid baru.
Resikonya, murid bisa terdegradasi keilmuannya dibanding sumber asli (guru utama), atau sebaliknya, apabila ada yang menambah keilmuan lain untuk diajarkan, akan terjadi perbedaan2 antara para murid penerus dikemudian hari. Harus juga diantisipasi, murid hanya mengenal guru langsungnya.
Tentang bagaimana cara dan kemungkinannya, agar kesejahteraan sumber keilmuan bisa tertangani, agak lebih rumit.
Biasanya pada jenis yang lebih mengarah pada beladiri praktis.
Uang bisa langsung didapat, bisa buka franchise dimana mana. Materi latihan bisa comot sana sini.
Harus modal gym/ruang latihan.
Hubungan guru-murid bersifat jual beli. Termasuk harus bayar mahal kalau ingin sampai dapat sertifikat pelatih, untuk bisa dipakai jualan lagi dengan memakai brand/merk yang sama, atau dengan merk baru, tergantung carb mana yang paling menguntungkan.
Kata kuncinya adalah membina terjaganya rasa “rumongso melu handarbeni”, merasa ikut memiliki, sense of belonging, yang bisa menimbulkan suasana partisipasi/kontribusi yang penuh keikhlasan.
Hak dan kewajiban dari mulai murid baru sampai sumber keilmuan ditata dengan baik. Akan terjadi partisipasi pemikiran, tenaga maupun dana, dari internal maupun eksternal.
Besaran iuran wajib harus optimal, tapi jangan sampai menyentuh ambang psikologis “komersial”, bisa malah merugi, kalau mengakibatkan peran serta lain2 malah menurun.
Dibidang keilmuan, hasil pengembangan spesifik oleh para murid, setelah disaring dan diujicoba, bisa ditambahkan sebagai pengayaan perbendaharaan keilmuan.
Teoritis, keilmuanya makin berkembang, meski para praktisinya bisa saja fluktuatip dalam mendalaminya.
Pilihan “terorganisasi” ini yang paling banyak dipakai, dalam melaksanakan pelestarian pencak silat, dalam aspek2 yang lengkap.
Salam.

 
Leave a comment

Posted by on 13/02/2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: